Sabtu, 11 Februari 2012

Yakin Anda mengharap kan surga?

Yakin Anda mengharapkan surga?
Sekiranya kita ditanya: "tujuan mana yang lebih penting? dunia atau akhirat? umumnya kita menjawab tentu saja akhirat lebih penting!, yakin! Tapi lebih banyak mana waktu yang kita gunakan?, untuk mengejar Akhirat atau mengejar dunia?? Ya!, ternyata kita tidak konsisten! katanya akhirat lebih penting dari dunia, tapi kenyataan nya sehari- hari kita malah lebih banyak mengejar dunia daripada akhirat!.    Apa iya??!  Mari hitung waktu yang kita alokasikan untuk urusan dunia, kemudian bandingkan dengan waktu kita untuk mengejar akhirat. 
Untuk tidur katakanlah rata-rata 6 jam, bekerja 8- jam, makan 2 jam, santai, nonton tv, ngobrol, kurang lebih 3 jam, perjalanan wara-wiri anggap saja 2 jam, total 21 jam! Sisanya yang 3 jam sekiranya kita bagi untuk sholat dan dzikir, masing-masing 20 menit dikalikan 5 waktu =100 menit. Baca AlQur'an setiap hari 20 menit, mendengar pengajian, baca buku, dan amalan kebajikan lainnya rata-rata katakanlah 1 jam. Berarti habis sudah waktu 3 jam yang tersisa!

Sekarang coba lihat kenyataannya: kita habiskan waktu untuk urusan dunia 21 jam sedangkan untuk urusan akhirat cuma 3 jam!. Begitukah cara kita mengejar akhirat?!
astaghfirullah
Padahal Allah sudah meng-isyaratkan kepada kita : " Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah mereka dengan AlQur'an agar masing-masing diri tidak dijerumuskan kedalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak ada bagi- nya pelindung dan tidak pula pemberi syafa'at selain Allah. Dan Jika ia me-nebus dengan segala macam tebusan pun niscaya tidak akan diterima. " [QS. Al An'aam:70] 
 
Dalam ayat diatas Allah telah  mengingatkan kepada kita secara tersirat tapi tegas bahwa jangan sampai kita tertipu oleh dunia, nanti menyesal!. Karena dunia ini cuma ujian dan cobaan buat manusia, kebahagiaan sesungguhnya nanti diakhirat. Dan tentu saja kita semua sudah paham betul.

Hanya saja kami cuma ingin membangunkan kesadaran kita semua, bahwa selama ini ternyata kita telah tertipu oleh angan-angan kita sendiri. Dan tragisnya tanpa sadar kita menjadi tidak konsisten! bahkan tidak masuk akal!. Apa yang menjadi tujuan utama [akhirat/surga] kita lalaikan, sedang kan dunia kita kejar habis-habisan! pontang-panting!, dan ironisnya selama ini kita merasa kita cukup cerdik!,padahal? astaghfirullah! sinyal kita cuma segaris! battere kita 'lowbatt!' kesadaran kita minim! action kita minus!, akhirat nomer sekian, urusan dunia? paling gesit!, Sholat? sering ditunda!, berjama'ah? malas!, dzikir? terburu-buru!, beramal? berhitung dulu!,berdo'a? minta paling banyak!!  na'udzubillah!

Pantas saja Allah menyebut:"..mereka mempunyai hati tetapi tidak diperguna kan untuk memahami ayat Allah, mereka mempunyai mata tapi tidak dipergunakan untuk melihat kekuasaan Allah mereka punya telinga tapi tidak di per- gunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah, mereka seperti binatang ternak bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yg lalai! [QS. Al-'Arof 179]

Rasulullah juga pernah memperingat- kan kita dg keras [dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah] "Barang siapa memusatkan perhatian nya pada kepentingan akhirat, maka Allah akan mencukupi kepentingan dunianya. Dan barang siapa yang disibukkan dengan urusan dunianya maka Allah tidak akan mempedulikan dia di-siksa dilembah neraka yang mana" 

Bahkan dengan sangat tegas Allah sudah memastikankan nasib siapa saja yang lebih mementingkan urusan dunia daripada akhirat :
"Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka didunia dengan sem-purna, dan mereka tidak akan dirugikan Itulah orang-orang yg tidak mempero-leh akhirat, kecuali neraka dan lenyap lah diakhirat itu apa yang telah diusaha kan didunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan [QS.Hud : 15-16]

Kenapa susah betul kita menyadari ini? 
Karena kecenderungan sebagian manusia menilai sesuatu berdasarkan yg dzahirnya saja,yg mana kelihatan me nguntungkan dirinya dan bisa langsung dirasakan nikmatnya itulah yg dikejar habis-habisan,
seperti Firman Allah SWT : "Mereka hanya mengetahui yang lahiriah [saja] dari kehidupan dunia, sedang tentang akhirat mereka lalai" [QS.Ar-Ruum8]
                             
Kalau begitu apa yang harus kita laku-kan? Jawabnya sederhana saja :  "bertindaklah yang proporsional.!" kalau kita sudah tahu akhirat adalah tujuan utama, maka utamakanlah itu, sedangkan dunia yg cuma 'tujuan antara', maka jadikan itu sebagai perantara untuk mencapai ketujuan [akhirat].

Tapi bagaimana caranya? 
apa iya kita tinggalkan semua urusan dunia? seperti bekerja, berkeluarga, bergaul dsb, kemudian hanya sholat, dzikir, baca Al-Qur'an, Puasa, Haji dsb? Tentu saja tidak!, karena Allah telah memberi petunjuk kepada kita untuk meraih dua kebahagiaan sekaligus, dunia dan akhirat.
"Dan carilah apa yang telah dikarunia kan Allah kepadamu [kebahagiaan] negeri akhirat, dan janganlah kamu meupakan bagianmu dari duniawi, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu....." [QS. Al Qoshosh : 77]

Tapi bagaimana formulasinya? karena waktu kita cuma 24 jam sehari. Bagaimana membagi waktu untuk urusan dunia dan  akhirat? Apakah perlu kita pisah-pisahkan antara kegiatan dunia dan akhirat?.  Keduanya adalah karunia Allah!, yang satu diberikan sekarang, yang satu lagi diberikan nanti. Kedua nya boleh kita ambil dan kita nikmati. Karena sekarang ini adalah kehidupan dunia maka jadikanlah dunia sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Jangan ditinggalkan, dijauhi dan dilalaikan, jangan tidak bekerja, jangan tidak berkeluarga dengan alasan takut mengganggu sholat dan dzikir, karena semua nya bisa dilakukan secara simultan. Banyak orang yg bekerja tapi tetap bisa melakukan sholat, dzikir dan amal kebajikan lainnya.

Dunia bukan untuk diabaikan, tapi untuk dikelola supaya memberikan kebahagia an/kemaslahatan kepada manusia. Tapi harus di ingat ini bukan tujuan akhir!. Karena kita sedang menuju ke kehidupan dan kebahagiaan abadi yg sesungguhnya. Karena itu man- faatkan dunia sebanyak-banyaknya untuk beramal kebajikan sebagai bekal kita kelak di akhirat, ingat: mumpung masih sehat!, jangan pernah berfikir nanti-nanti saja, pelan-pelan.

Seorang muslim boleh kaya agar bisa pergi haji, bisa menolong orang miskin, yatim piatu, agar bisa menyekolahkan anak-anaknya menjadi generasi yang robbani. Seorang muslim juga harus pandai dan punya ilmu pengetahuan luas agar tidak terus menerus dibodohi, agar bisa memahami ayat-ayat Allah di alam semesta yang akan menambah kedekatan kita kepada Allah. Seorang muslim juga boleh menjadi penguasa agar potensi umat Islam bisa dikelola dengan baik, hidup damai sejahtera dalam negeri yang yang dirahmati dan diridhoi Allah,bukan yg diridhoi manusia                   

"Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.... [QS. AlBaqoroh 29]  dan  [QS. AnNahl:14].

Masih banyak ayat-ayat yang bercerita tentang betapa Allah telah menciptakan segala sesuatu yang ada untuk manusia. Tidak ada ayat yang melarang kita menikmatinya. Yang dilarang itu adalah hidup bermewah-mewah dan bermegah-megahan hingga lupa mengingat Allah. 
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk kedalam kubur [QS. At Takatsur:1-2]

Jadi rumus dasarnya adalah: kembali kepada "mengingat" Allah, berdzikir kepada Allah. Meng-orientasikan segala aktifitas hanya kepada Allah, dalam kondisi apapun!, suka-duka, tidak ada lagi  waktu yg memisahkan antara kita dan Dia. Hati dan jiwa tak pernah lepas dari sang Penguasa Waktu.

"Bertasbihlah mengagungkan KebesaranNya diwaktu pagi dan petang hari" [QS. AlFath :9]

Setiap waktu dan dimanapun kita berada :
"Dan kepunyaan Allah lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas Lagi Maha Mengetahui [QS. AlBaqoroh :15]

Total dzikir sejak bangun tidur hingga tidur kembali kita berdzikir kepada Allah. Ber-istighfar mohon ampunan, bertasbih memuji kebesaranNya, bersyukur atas segala kenikmatan yang kita rasakan, bertakbir untuk mengecilkan diri dihadapanNya, dan akhirnya me-lenyapkan diri dan ego kita terhadap kehendak Allah, dalam segala aktifitas yg kita lalui. Rasakan keberadaan diri kita dan alam semesta secara holistik, karena dengan menyadari keberadaan itulah kita akan mengenal dan merasakan kehadiranNya [ihsan]. Meniadakan diri,  karena ternyata segala sesuatu yg ada ini hanya semu belaka. Yg ada cuma Dia. Karena Dialah yang mengendalikan seluruhnya, Dialah Tuhan yg menggenggam alam semesta.

Ketika kita sudah merasakan kesadaran tauhid lewat dzikir, maka Allah selalu hadir dalam kehidupan kita, tak pernah terpisahkan lagi 24 jam sehari semalam, selalu bersamaNya, setiap jantung berdetak!, apapun yang kita lihat, kita dengar, kita alami adalah semata-mata karena Dia. Maha Karya Allah
Burung beterbangan mengingatkan kita kepada Allah, gunung yang indah, bintang berkilau, gemuruh hujan dan petir yang menggelegar semua meng-ingatkan kita kepada Allah. Semua sedang  berDZIKIR kepada Allah.
            
"Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepadaNya bertasbih apa yang ada dilangit dan dibumi dan juga burung dengan mengembangkan sayap nya. Masing-masing telah mengetahui sembahyang dan tasbih nya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan [QS. AnNur:41]

Maka mari jadikan ini doa sebagai kebiasaan :                             
"Allahumma  a'innii alaa dzikrika, wa syukrika wa husni ibaadatik "       
"Ya Allah bantulah aku [supaya selalu bisa] mengingatMu, bersyukur kepada Mu , dan ber ibadah dg baik kepadaMu,be.rsyukur kepada Mu , dan beribadah dg baik kepadaMu. amin

Tidak ada komentar: